LP2M UNIKHAMS Teguhkan Komitmen Riset dan Pengabdian Berbasis Keislaman-Keadilan Gender Melalui Sosialisasi Pandangan KUPI

Jember, 23 Oktober 2025 — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) Jember ikut terlibat memperkuat riset dan pengabdian berbasis nilai-nilai keislaman yang berkeadilan. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan Sosialisasi Sikap dan Pandangan Keagamaan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) mengenai Perlindungan Perempuan dari Praktik Pemotongan dan Pelukaan Genitalia Perempuan (P2GP) tanpa alasan medis, LP2M UNIKHAMS menegaskan komitmennya terhadap pembelaan martabat perempuan dalam perspektif Islam rahmatan lil ‘alamin.

Kegiatan yang digelar di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UINKHAS) Jember ini diselenggarakan oleh ALIMAT bekerja sama dengan UINKHAS Jember, dan dihadiri oleh berbagai lembaga pendidikan tinggi, organisasi profesi, serta tokoh agama. Rektor UINKHAS, Prof. Dr. Hepni, S.Ag., MM, membuka acara dengan penegasan pentingnya sinergi lembaga akademik dalam mengedukasi masyarakat mengenai isu-isu kemanusiaan yang berakar pada nilai-nilai keagamaan.

Dari kalangan tenaga kesehatan, perwakilan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menggarisbawahi tanggung jawab moral dan profesional untuk melindungi perempuan dari praktik berisiko yang tidak memiliki dasar medis. Para narasumber kemudian memberikan perspektif multidisipliner—dari medis, sosial-budaya, hingga keagamaan—yang memperkaya pemahaman peserta tentang bahaya praktik pemotongan genitalia perempuan.

Dalam sesi tersebut, Dr. Iklilah Muzayyanah Dinni Fitriyah, M.Si. menyoroti akar budaya yang sering kali melegitimasi praktik tersebut atas nama agama. Sedangkan Dr. KH. Imam Nahe’i, M.Hi. menegaskan bahwa secara syar‘i, tidak ada legitimasi untuk praktik yang merugikan dan melanggar prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu menjaga keselamatan jiwa dan kehormatan manusia. Pandangan keagamaan yang berpihak pada kemanusiaan inilah yang menjadi dasar kuat bagi gerakan KUPI dan lembaga pendidikan Islam untuk memperkuat literasi keagamaan masyarakat.

Keikutsertaan LP2M UNIKHAMS dalam kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempertegas peran universitas Islam berbasis pesantren dalam membangun wacana keilmuan yang berbasis riset, keislaman, dan keberpihakan pada keadilan gender. Ketua LP2M UNIKHAMS, Hasyim Asy’ari, M.Pd.I, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini bukan sekadar forum ilmiah, tetapi juga bagian dari ikhtiar intelektual dan moral untuk memperkuat kualitas penelitian dan pengabdian dosen UNIKHAMS.

“Sebagai kampus Islam berbasis pesantren, UNIKHAMS memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan riset dan pengabdian dosen berpihak pada kemanusiaan, terutama dalam memperjuangkan keadilan bagi perempuan. Pandangan keagamaan harus senantiasa dikembalikan pada nilai utama Islam: menjaga keselamatan, martabat, dan kemaslahatan manusia,” ujar Hasyim Asy’ari.

Melalui kegiatan ini, LP2M berkomitmen untuk memperluas ruang dialog antara ilmu pengetahuan, budaya, dan agama dalam konteks keindonesiaan. Harapannya, dosen dan peneliti UNIKHAMS dapat mengembangkan riset-riset keislaman yang tidak hanya akademis, tetapi juga relevan dengan isu sosial kontemporer—termasuk persoalan kekerasan berbasis gender, keadilan sosial, dan perlindungan kelompok rentan.

Hasyim Asy’ari menambahkan bahwa UNIKHAMS ingin menjadikan riset dan pengabdian sebagai media dakwah intelektual, yang menyuarakan Islam sebagai agama kasih sayang dan keadilan. Dalam hal ini, LP2M akan terus mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga keagamaan, pemerintah, dan masyarakat sipil untuk mengimplementasikan hasil kajian dan riset dalam bentuk program nyata di tengah masyarakat.

Partisipasi LP2M UNIKHAMS dalam sosialisasi pandangan KUPI menjadi refleksi nyata dari visi universitas: membumikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial dengan pendekatan ilmiah dan humanis dalam mewujudkan visi rahamatan lil ‘alamin. Melalui pemahaman yang komprehensif, kegiatan ini memperkuat pesan bahwa melindungi perempuan dari praktik berbahaya bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga tanggung jawab keagamaan dan kemanusiaan.

Dengan demikian, UNIKHAMS tidak hanya hadir sebagai lembaga akademik, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam progresif yang menjunjung tinggi nilai keadilan, kemaslahatan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan—sejalan dengan semangat pesantren yang menjadi akar identitasnya (AI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *